Lirik:
1. Malam larut, Bukit Zaitun, bintang pudar, redup sinar;
Getsemani, sunyi senyap, Juru-s'lamat sujud doa.
2. Malam larut, sendirian, Juru-s'lamat, doa, susah;
Murid-murid lesu, lena, tak peduli Tuhan duka.
3. Malam larut, duka amat, tetes peluh bagai darah;
Malak datang, tunjang t'naga, tak ditinggal oleh Allah.
4. Malam larut, usai doa, cawan pahit, rela t'rima;
Asal rampung murad Allah, bagi insan, korban jiwa.
(William B. Tappan, th. 1822) Doa di Getsemani
Link:
Category:Praise of the LordSubcategory:His Suffering
Lyrics:William Bingham Tappan (1794-1849)
Music:William Batchelder Bradbury (1816-1868)
Time: 4/4
Key: Ab Major
Meter: 8.8.8.8.
Hymn Code:5556655511123221
Music (MIDI)
Tune (MIDI)
Music (MP3)
Lead Sheet (Guitar)
Lead Sheet (Piano)
Piano Sheet Music
Kidung: Malam Larut di Getsemani
Bait 1
Malam larut, Bukit Zaitun, bintang pudar, redup sinar;
Getsemani, sunyi senyap, Juru-s'lamat sujud doa.
Ayat Alkitab (LAI):
“Lalu Yesus pergi bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani dan Ia berkata kepada mereka: ‘Duduklah di sini sementara Aku berdoa.’”
— Matius 26:36
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti seorang anak yang datang kepada ayahnya pada malam sunyi, Yesus masuk ke taman bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk bersekutu dengan Bapa sebelum badai penderitaan datang.
Renungan bait:
Yesus memilih doa ketika kesepian dan kegelapan menyelimuti. Getsemani mengajarkan bahwa saat manusia lain tertidur, hubungan dengan Bapa menjadi satu-satunya kekuatan sejati.
Bait 2
Malam larut, sendirian, Juru-s'lamat, doa, susah;
Murid-murid lesu, lena, tak peduli Tuhan duka.
Ayat Alkitab (LAI):
“Lalu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur, dan Ia berkata kepada Petrus: ‘Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?’”
— Matius 26:40
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti seorang gembala yang terjaga saat kawanan domba terlelap, Yesus tetap berjaga demi keselamatan mereka yang belum mengerti besarnya bahaya.
Renungan bait:
Kesendirian Yesus menyingkap kelemahan manusia. Bahkan mereka yang paling dekat sering gagal memahami kedalaman penderitaan-Nya. Namun kasih Yesus tidak berhenti karena kelalaian manusia.
Bait 3
Malam larut, duka amat, tetes peluh bagai darah;
Malak datang, tunjang t'naga, tak ditinggal oleh Allah.
Ayat Alkitab (LAI):
“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.”
— Lukas 22:44
“Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.”
— Lukas 22:43
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti prajurit yang hampir roboh di medan perang namun dikuatkan kembali, Yesus menerima kekuatan surgawi agar mampu melangkah menuju salib.
Renungan bait:
Penderitaan Yesus nyata dan mendalam. Namun Bapa tidak meninggalkan-Nya. Di titik terlemah manusiawi Yesus, penyertaan Allah justru dinyatakan dengan jelas.
Bait 4
Malam larut, usai doa, cawan pahit, rela t'rima;
Asal rampung murad Allah, bagi insan, korban jiwa.
Ayat Alkitab (LAI):
“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
— Matius 26:39
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti benih yang harus mati di dalam tanah agar berbuah, Yesus menerima kehendak Bapa agar keselamatan dapat lahir bagi banyak orang.
Renungan bait:
Kemenangan Yesus bukan dimulai di salib, tetapi di Getsemani. Ketaatan-Nya membuka jalan keselamatan. Ia memilih kehendak Allah demi hidup manusia.
Renungan Penghubung Seluruh Kidung
Getsemani adalah altar ketaatan, tempat Yesus menundukkan kehendak manusiawi-Nya kepada rencana kekal Allah. Dalam sunyi malam, air mata, dan pergumulan batin, Juruselamat memenangkan pertempuran terdalam: taat sampai mati. Dari taman inilah salib menjadi kepastian, dan keselamatan menjadi anugerah bagi dunia.
Doa Penutup
Tuhan Yesus,
kami bersyukur atas kasih-Mu yang rela masuk ke Getsemani demi kami.
Ajarlah kami berjaga dalam doa, taat dalam penderitaan,
dan setia melakukan kehendak Bapa,
meski jalan terasa berat dan sunyi.
Biarlah teladan-Mu membentuk hidup kami,
hingga kami sanggup berkata,
“Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”
Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.