1. Runduk, rendah, bentak, depak, pikul salib ke depan;
P'ri domba ke pembantaian, Diam, bisu, tak elak.
Koor: O,Tuhan, Kaulah Sang Benar, bagiku menderita!
Kasih-Mu tidak terduga, bagi-Mu hidup beta.
2. Tajuk duri, siksa amat, tangan , kaki terpaku;
Bapa pergi, musuh garang, melanda roh dan raga.
3. Turun palang Kau tak hendak, malak tolong pun tidak;
Kau dikeji dan dilindas, puaskan tuntutan Allah.
4. Tak tahan surya memandang, Domba Allah terpancang;
Tirai koyak, jalan buka, berani hampir Allah.
Kidung: Runduk, Rendah, Pikul Salib
Bait 1
Runduk, rendah, bentak, depak, pikul salib ke depan;
P'ri domba ke pembantaian, diam, bisu, tak elak.
Ayat Alkitab (LAI):
“Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian, seperti domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
— Yesaya 53:7
“Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
— Filipi 2:8
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti domba yang tidak melawan tukang sembelih, Kristus melangkah maju tanpa pembelaan, menyerahkan diri sepenuhnya.
Renungan bait:
Kerendahan Kristus bukan kelemahan, melainkan ketaatan sempurna. Ia memilih diam agar kehendak Bapa tergenapi dan keselamatan tersedia bagi kita.
Koor
O, Tuhan, Kaulah Sang Benar, bagiku menderita!
Kasih-Mu tidak terduga, bagi-Mu hidup beta.
Ayat Alkitab (LAI):
“Ia benar, dan Ia yang membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.”
— Roma 3:26b
“Hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
— Galatia 2:20b
Renungan singkat:
Orang Benar menderita bagi yang bersalah, agar hidup kita tidak lagi milik sendiri, melainkan milik Kristus.
Bait 2
Tajuk duri, siksa amat, tangan, kaki terpaku;
Bapa pergi, musuh garang, melanda roh dan raga.
Ayat Alkitab (LAI):
“Mereka menganyam mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya.”
— Matius 27:29a
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
— Matius 27:46b
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti raja yang dimahkotai dengan duri, Yesus menanggung kehinaan terdalam agar kita menerima kemuliaan sejati.
Renungan bait:
Di salib, Kristus mengalami keterpisahan yang seharusnya kita tanggung. Ia ditinggalkan agar kita diterima kembali oleh Bapa.
Bait 3
Turun palang Kau tak hendak, malak tolong pun tidak;
Kau dikeji dan dilindas, puaskan tuntutan Allah.
Ayat Alkitab (LAI):
“Atau kau sangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat?”
— Matius 26:53
“Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci.”
— 1 Korintus 15:3b
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti tahanan yang menolak pembebasan demi menyelamatkan orang lain, Kristus tetap tergantung demi tergenapinya penebusan.
Renungan bait:
Salib bukan ketidakmampuan Yesus, melainkan keputusan kasih. Ia tidak turun dari salib agar kita dapat naik kepada Allah.
Bait 4
Tak tahan surya memandang, Domba Allah terpancang;
Tirai koyak, jalan buka, berani hampir Allah.
Ayat Alkitab (LAI):
“Dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.”
— Matius 27:45
“Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.”
— Matius 27:51a
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia.”
— Ibrani 4:16a
Ilustrasi rohani singkat:
Seperti pintu yang terkunci lalu terbuka lebar, kematian Kristus membuka jalan langsung menuju hadirat Allah.
Renungan bait:
Ketika Kristus mati, penghalang antara Allah dan manusia disingkirkan. Salib menjadi jalan keberanian, bukan lagi ketakutan.
Renungan Penghubung Seluruh Kidung
Kidung ini menuntun kita memandang Anak Domba Allah yang dengan sukarela berjalan menuju salib. Dalam kerendahan, penderitaan, dan ketaatan-Nya, tuntutan keadilan Allah dipuaskan dan jalan keselamatan dibuka. Diam-Nya berbicara lebih keras dari seribu pembelaan: kasih yang rela mati agar manusia hidup.
Doa Penutup
Tuhan Yesus Kristus,
Anak Domba Allah yang tersalib,
kami tersungkur mengagumi kasih-Mu yang tak terduga.
Engkau tidak turun dari salib
agar kami dapat naik menghampiri Allah.
Ajarlah kami hidup dalam kerendahan,
taat dalam penderitaan,
dan setia mengikuti jejak-Mu setiap hari.
Terimalah hidup kami sebagai jawaban syukur
atas salib-Mu yang mulia.
Dalam nama-Mu yang kudus kami berdoa. Amin.