No. 012 : Menyembah Bapa - Keagungan-Nya



Lirik
1. Ku meninjau alam ciptaan Allah;
    langit, bumi, dan semua isinya,
    Pusparagam, sungguh indah dan megah;
    'nyatakan kuasa-Mu tak terhingga.

    Koor:
    Hatiku, rohku pujilah seg'ra.
    Dikau ajaib! Dikau agung!
    Suara pujian sampai selamanya.
    Dikau ajaib! Dikau agung!

2. Saat 'ngecap kurnia ajaib nan megah,
    terkenang Dikau utus Sang Putra.
    Mati, bangkit, lahir ciptaan baru;
    menyatakan hayat-Mu sepenuh.

3. Dalam sidang nikmat berkat sekutu,
    'nampak S'rani penuhlah hayat-Mu.
    Dibangunkan menjadi istana-Mu,
    k'limpahan-Mu ternyata seluruh.

4. Saat tiba, harapanku terpenuh,
    ku berbagian Yerusalem Baru.
    Usang sirna, semua jadi baru,
    genap nyata segala ada-Mu.


Mazmur 145:3  
Besarlah TUHAN dan sangat terpuji,
dan kebesaran-Nya tidak terduga.


Link
Keterangan:

Pada musim panas 1934, seorang misionaris Inggris berusia 34 tahun, melayani di sebuah wilayah terpencil di Eropa Timur, bepergian dengan sepeda untuk memberitakan Injil dan membagikan Alkitab di pegunungan Carpathian. Nama misionaris itu adalah Stuart K. Hine. Kidung “Dikau Ajaib, Dikau Agung” merupakan hasil dari pengalamannya selama melayani di daerah pegunungan itu.
Bait pertama dan kedua sebagian terinspirasi dari kata-kata di kidung berbahasa Rusia gubahan Prokhanoff, dan sebagian lagi dari keajaiban dan keindahan ciptaan Allah. Bait ketiga terinspirasi dari kekaguman orang-orang desa akan keajaiban kasih Allah yang diberitakan kepada mereka.

Pada tahun 1948, kesedihan dan penderitaan para pengungsi dari Eropa Timur, terpisah dari orang-orang yang mereka cintai, menginspirasi Stuart untuk menuliskan bait keempat; suatu bait pengharapan. Kenneth Osbeck, seorang ahli himnologi, berkata: “Kidung ini mengajarkan kita tiga kebenaran penting: keagungan ciptaan Allah, keagungan penebusan Kristus, dan keagungan warisan kita di jaman yang akan datang.”


Biografi Singkat Penulis:



Stuart Keene Hine lahir di London pada 25 Juli 1899, menjelang dimulainya suatu abad yang baru. Dia membuat komitmen pribadi pada Kristus di usia 14 tahun, dan tidak lama setelah itu ia dibaptis. Pada usia 18 tahun, Stuart dipanggil untuk mengikuti wajib militer di Perancis. Masa itu adalah hari-hari yang menakutkan, tapi iman Stuart semakin kuat. Sepulangnya ke London, pada bulan Desember 1919, Stuart mendapat pekerjaan sebagai pegawai di perusahaan multinasional Jepang, Mitsubishi.
Pada 20 Juni 1923, Stuart menikah dengan Mercy Salmon dan tidak lama setelah hari pernikahan itu, mereka pindah ke Polandia untuk memulai pelayanan rohani mereka di Eropa Timur selama lebih dari 16 tahun. Pada bulan Juni 1934, Stuart bepergian sejauh 300 mil dengan sepeda mengunjungi penduduk yang bermukim di Pegunungan Carpathian. Perjalanan itulah yang kemudian melahirkan kidung “Dikau Ajaib, Dikau Agung”. 


1 comment:

  1. Kami memuji Hikmat dan Kasih Mu Ya Abba Bapa Amin!
    Haleluya!!

    ReplyDelete